Owens
mendefinisikan “culture is a system of shared values and benefit that
interact with an organization’s people, organizational behavioral norms”, budaya
adalah suatu sistem pembagian nilai dan kepercayaan yang berinteraksi dengan
orang dalam suatu organisasi, struktur organisasi, dan sistem kontrol yang
menghasilkan norma perilaku (Tika, 2014: 2-3).
Budaya kerja
adalah sistem makna bersama yang dianut
oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari
organisasi- organisasi lain. Sistem makna bersama ini
bila diamati dengan lebih seksama, merupakan
seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi tersebut (Robbins, 2006: 721). Budaya kerja berkaitan
dengan cara karyawan
mempersepsikan karakteristik budaya organisasi. Ada 10 (sepuluh)
karakteristik budaya kerja yaitu: 1)
inisiatif individual; 2) toleransi
terhadap tindakan berisiko; 3) pengarahan; 4) integrasi; 5) dukungan
manajemen; 6) kontrol; 7) identitas; 8)
sistem imbalan; 9) toleransi terhadap konflik; 10) pola komunikasi.
Budaya
kerja diidentifikasikan sebagai budaya organisasi, Tika (2014: 4-5) merangkum
pendapat para ahli mengenai budaya organisasi. Druicker dalam buku Owens,
menyatakan “organizational cultures is the body of solutions to external and
internal problems that has worked consistenly for a group and that is therefore
taught to new members as the correct way to perceive, think about, and feel in
relation to those problems. Budaya organisasi adalah pokok penyelesaian
masalah-masalah eksternal dan internal yang pelaksanaannya dilakukan secara
konsisten oleh suatu kelompok yang kemudian mewariskan kepada anggota-anggota
baru sebagai cara yang tepat untuk memahami, memikirkan, dan merasakan terhadap
masalah-masalah terkait seperti di atas. Sedangkan Amnuai mendefinisikan budaya
organisasi adalah seperangkat asumsi dasar dan keyakinan yang dianut oleh
anggota-anggota organisasi, kemudian dikembangkan dan
diwariskan guna mengatasi masalah-masalah adaptasi eksternal dan masalah
integrasi internal.
Dari
beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa budaya kerja adalah sistem
makna, nilai-nilai inti yang dianut bersama yang berkaitan dengan persepsi terhadap
karakter budaya organisasi sehingga mempengaruhi tingkah laku dalam bekerja.
Budaya
di dalam organisasi mempunyai dua fungsi utama, pertama, sebagai proses
integrasi internal di mana anggota-anggota organisasi dapat bersatu padu
sehingga mereka akan mengerti bagaimana berinteraksi satu sama lainnya. Fungsi
integrasi internal ini akan memberikan pedoman untuk bekerja bersama-sama
secara efektif. Fungsi pertama ini juga mengatur bagaimana proses komunikasi
yang pemimpin lakukan selama ini, dan mengatur juga perilaku pemimpin seperti
apa yang dapat diterima oleh organisasi dan perilaku seperti apa yang tidak
dapat diterima. Budaya organisasi akan tertanam di dalam perasaan, pikiran, dan
persepsi pemimpin dan bawahannya. Budaya organisasi di tempat pemimpin bekerja
akan mempengaruhi perilaku pemimpin dalam bekerja dan pada akhirnya akan
mempengaruhi efektivitas organisasi.
Fungsi
kedua dari budaya organisasi adalah sebagai proses adaptasi eksternal, di mana
budaya akan menentukan bagaimana organisasi memenuhi tujuan-tujuannya dan
berhubungan dengan pihak luar. Budaya ini akan menentukan tingkat adaptasi
organisasi dalam merespon perubahan zaman, persaingan, inovasi, dan pelayanan
terbaik bagi konsumen.
Robbins (2006: 725) membagi lima fungsi strategis
budaya kerja sebagai berikut: (1)berperan
menetapkan batasan pembeda antara organisasi
yang satu dengan lainnya; (2) mengantarkan suatu perasaan identitas bagi suatu organisasi;
(3) mempermudah timbulnya komitmen yang lebih luas; (4) meningkatkan stabilitas sistem sosial karena merupakan
perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi; (5) sebagai mekanisme kontrol
yang memandu dan membentuk
sikap serta perilaku para guru dan
karyawan.
Adapun
manfaat dari pada penerapan budaya kerja yang baik adalah: 1) meningkatkan jiwa
gotong royong; 2) meningkatkan kebersamaan; 3) saling terbuka satu sama lain;
4) meningkatkan jiwa kekeluargaan; 5) meningkatkan rasa kekeluargaan; 6)
membangun komunikasi yang lebih baik; meningkatkan produktifitas kerja; 7)
tanggap dengan perkembangan dunia luar.
Berdasarkan
paparan mengenai aspek-aspek budaya kerja tersebut dapat dibuat simpulan bahwa
budaya kerja guru adalah sistem makna, nilai-nilai, sikap dan kepercayaan yang dianut bersama oleh guru
dalam melaksanakan tugasnya.
Surat Keputusan Menteri
Pendayagunaan
Aparatur Negara No. 25/Kep/M.PAN/2002
tanggal 25 April 2002 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara, nilai-nilai dasar budaya kerja aparatur Negara adalah
sebagai berikut:
1. Komitmen dan Konsisten (terhadap
visi, misi dan tujuan organisasi) Memegang teguh sepenuh hati dan berjanji melaksanakan tugas secara
taat untuk mencapai tujuan.
2.
Wewenang dan Tanggung Jawab
Melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab dengan baik agar tidak ada pihak lain yang dirugikan.
3. Keikhlasan dan Kejujuran
a. Rela sepenuh hati, tumbuh dari lubuk hati, dan tidak mengharapkan
imbalan/balasan.
a. Keberanian untuk mengatasi dirinya sendiri, berani menolak dan
bertindak untuk melawan segala bentuk kebatilan.
4. Integritas dan Profesionalisme
a. Tidak diragukan lagi integritasnya
serta selalu konsisten dalam kata dan perbuatan.
b. Profesionalisme adalah kompetensi untuk
melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik
dan benar.
5. Kreativitas dan Kepekaan
a. Kreativitas berarti mempunyai ide-ide baru
dan inovatif yang muncul spontan untuk hal penting dan mendesak.
b. Kepekaan adalah
respon seseorang atau
organisasi dalam menghadapi suatu
peristiwa yang dapat menguntungkan, merugikan atau membahayakan.
6. Rasionalitas dan Kecerdasan Emosi
a. Rasionalitas adalah berpikir cerdas, obyektif,
logis, sistematik, dan melibatkan proses ilmiah atau kemampuan
intelektual.
b. Kecerdasan emosi berarti memandang sesuatu
dari aspek perasaan, spontanitas, kreatif, inovatif, holistik, kinestetik, kooperatif,
dan lain sebagainya.
7. Keteguhan
dan Ketegasan
a. Keteguhan: kuat berpegang pada aturan, nilai
moral, prinsip-prinsip manajemen
dan lain-lain.
b. Ketegasan: sifat, watak, dan tindakan yang jelas dan tidak ragu-ragu.
8. Disiplin dan Keteraturan Kerja
a. Disiplin lebih merujuk pada sikap yang selalu taat pada aturan,
norma, dan prinsip-prinsip tertentu.
b. Keteraturan lebih menunjukkan perilaku yang
konsisten mengikuti ketentuan dan prosedur tertentu.
|
Budaya
kerja berpijak dari nilai-nilai yang dimiliki
oleh bangsa atau masyarakat
Indonesia yang diolah sedemikian rupa menjadi nilai-nilai baru yang akan menjadi sikap dan perilaku manajemen yang diharapkan dalam upaya menghadapi tantangan baru. Budaya kerja tidak akan
muncul begitu saja, akan tetapi harus diupayakan dengan sungguh- sungguh
melalui proses yang
terkendali dengan
melibatkan semua sumber daya
manusia dalam seperangkat
sistem, alat-alat dan
teknik-teknik pendukung.
Budaya
kerja akan menjadi kenyataan melalui
proses panjang, karena perubahan
nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru akan
memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dan tak henti-hentinya terus
melakukan penyempurnaan
dan perbaikan. Budaya kerja
yang baik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk
merubahnya, maka itu perlu adanya pembenahan- pembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku pemimpinnya
kemudian diikuti para bawahannya.
Terbentuknya budaya kerja diawali tingkat kesadaran pemimpin atau pejabat
yang ditunjuk, dimana besamya hubungan
antara pemimpin dengan bawahannya
akan menentukan cara tersendiri apa yang
dijalankan dalam perangkat satuan kerja atau organisasi.
Proses terbentuknya
budaya kerja menurut Robbins (2006: 729) terjadi dalam 3 (tiga) cara yaitu: 1) para
pendiri atau pemimpin awal mempertahankan guru dan karyawan yang berfikir dan
merasakan cara yang mereka tempuh; 2) mereka mengindoktrinasikan dan
mensosialisasikan para guru dan karayawan dengan cara berfikir mereka. Dan akhirya perilaku pimpinan bertindak
sebagai model peran yang mendorong para guru dan karyawan mengidentifikasikan diri dengan
mereka. Bila organisasi berhasil, visi
pimpinan menjadi penentu utama keberhasilan, saat itu
keseluruhan kepribadian pimpinan menjadi tertanam ke dalam budaya organisasi.
Terbentuknya budaya
kerja dapat dianalasis dari tiga teori yang ada, yaitu:
a. Teori
Socio-dynamic
Teori ini menekankan agar setiap
individu perlu merasakan bahwa ia adalah anggota kelompok dan setiap anggota
kelompok menyelesaikan konflik antara keinginan yang diinginkan kelompok tetapi
menghilangkan identitas personil.
b. Teori
Kepemimpinan'
Teori ini menekankan hubungan antara pimpinan
dengan kelompok yang sangat relevan
dengan pengertian bagaimana budaya kerja terbentuk.
c. Teori
Pembelajaran
Teori pembelajaran memberikan bagaimana kelompok
mempelajari kognitif, perasaan, dan penilaian. Proses pembelajaran dimaksudkan
untuk pewarisan budaya kerja organisasi kepada anggota baru.
Deal & Kennedy membagi lima unsur
pembentuk budaya organisasi (Tika, 2014:
16-17) sebagai berikut:
1. Lingkungan
Usaha
Kelangsungan
hidup organisasi ditentukan oleh kemampuan perusahaan memberi tanggapan yang
tepat terhadap peluang dan tantangan lingkungan. Lingkungan usaha merupakan
unsur yang menentukan terhadap apa yang harus dilakukan perusahaan agar bisa
berhasil. Lingkungan usaha antara lain meliputi produk yang dihasilkan,
pesaing, pelanggan, teknologi, pemasok, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.
2. Nilai-Nilai.
Nilai-nilai
adalah keyakinan dasar yang dianut oleh sebuah organisasi. Setiap organisasi
mempunyai nilai-nilai inti sebagai pedoman berpikir dan bertindak bagi semua
warga dalam mencapai tujuan/misi organisasi.
3. Pahlawan
Pahlawan
adalah tokoh yang dipandang berhasil mewujudkan nilai-nilai budaya dalam
kehidupan nyata. Pahlawan bisa berasal dari pendiri organisasi, para manajer
(Kepala Sekolah), kelompok organisasi (PGRI), atau perorangan yang berhasil
menciptakan nilai-nilai organisasi.
4. Ritual
Robbins
mendefinisikan ritual sebagai deretan berulang dari kegiatan yang mengungkapkan
dan memperkuat nilai-nilai utama organisasi, tujuan apakah yang paling penting,
orang-orang manakah yang penting dan mana yang dapat dikorbankan.
5. Jaringan
Budaya
Jaringan
budaya adalah jaringan komunikasi informal yang pada dasarnya merupakan saluran
komunikasi primer. Fungsinya menyalurkan informasi dan memberi interpretasi
terhadap informasi. Melalui jaringan informal, kehebatan organisasi diceritakan
dari waktu ke waktu. Sebagai cara berkomunikasi informal, jaringan budaya
merupakan pembawa nilai-nilai budaya dan mitologi kepahlawanan.
Budaya kerja menunjukkan posisi
individu dalam suatu kelompok, bagaimana seorang guru adalah anggota dalam
organisasi dalam hal ini adalah sekolah, dan harus menyelesaikan pekerjaan
selaku kewajiban yang harus dipenuhi sebagai anggota dalam organisasi. Seorang
guru mempunyai pimpinan, yaitu kepala sekolah dan hubungan dengan kepala
sekolah merupakan budaya kerja yang terbentuk dalam lingkup sekolah. Begitu
juga dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah merupakan budaya kerja
sekolah yang dilaksanakan oleh guru yang sudah lama ada di sekolah tersebut
atau guru baru yang datang ke sekolah tersebut.
Nilai-nilai budaya kerja dapat
meningkatkan komitmen dan konsistensi guru dalam menjalankan tugasnya,
melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab dengan baik, meningkatkan rasa
ikhlas dan jujur, integritas
dan profesionalisme, kreativitas dan kepekaan, rasionalitas dan kecerdasan
emosi, keteguhan dan ketegasan, serta meningkatkan budaya kerja dan keteraturan
kerja guru.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa budaya kerja adalah sistem makna, nilai-nilai yang dianut bersama yang
berkaitan dengan persepsi terhadap karakter budaya organisasi sehingga
mempengaruhi tingkah laku dalam bekerja. Budaya kerja yang terbentuk secara
baik akan bermanfaat guna mencapai keberhasilan sebuah organisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar