1. Definisi Motivasi Kerja Guru
Menurut Bangun (2012: 312) motivasi berasal dari kata motif (motive) yang berarti dorongan. Dengan
demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadi sebab
seseorang melakukan perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar. Mathis
& Jackson (2006: 271) mengatakan motivasi merupakan hasrat di dalam
seseorang menyebabkan orang tersebut melakukan suatu tindakan. Seseorang
melakukan tindakan untuk sesuatu hal dalam mencapai tujuan. Oleh sebab itu,
motivasi merupakan penggerak yang mengarahkan pada tujuan dan itu jarang muncul
dengan sia-sia.
Motif menurut Gerungan (1996:
142-144)
dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu (1) motif biogenetis, yaitu
motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme demi kelanjutan
hidupnya, misalnkan lapar, haus, kebutuhan akan kegiatandan istirahat,
mengambil napas, seksualitas, dan sebagainya; (2) motif sosiogenetis, yaitu
motif-motif yang berkembang berasal dari lingkungan kebudayaan tempat orang
tersebut berada. Jadi, motif inini tidak berkembang dengan sendirinya, tetapi
dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan setempat. Misalnya, keinginan
mendengarkan musik, makan pecel, makan coklat, dan lain-lain; (3) motif
teologis, dalam motif ini manusia adalah sebagai makhluk yang berketuhanan,
sehingga ada interaksi antara manusia dengan Tuhan-Nya, seperti ibadahnya dalam
kehidupan sehari-hari, misalnya keinginan untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha
Esa, untuk merealisasikan norma-norma sesuai agamanya.
Dari sudut sumber yang menimbulkannya, menurut Uno (2013: 4) motif
dibedakan dua macam, yaitu intrisik dan motif ekstrinsik. Motif instrinsik,
timbulnya tidak memerlukan rangsangan dari luar karena memang telah ada dalam
diri individu sendiri, yaitu sesuai atau sejalan dengan kebutuhannya. Sedangkan
motif ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan dari luar individu, misalnya
dalam bidang pendidikan terdapat minat yang positif terhadap kegiatan
pendidikan timbul karena melihat manfaatnya.
Robbins (2006: 213) mendefinisikan motivasi sebagai proses yang
menentukan intensitas, arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai
sasaran. Motivasi menurut Danim (2012: 23) dapat diartikan sebagai setiap daya
gerak atau daya dorong yang muncul pada diri individu untuk secara sadar
mengabdikan diri bagi pencapaian tujuan organisasi.
Untuk membahas motivasi kerja, terlebih dahulu dikemukakan pandangan
kerja itu sendiri. Pandangan kerja dan bekerja dewasa ini menurut Uno (2013:
66-67) bukanlah seperti pandangan konservatif yang menyatakan bahwa kerja
jasmaniah adalah bentuk hukuman sehingga tidak disukai orang. Akan tetapi
dewasa ini, kerja dan bekerja sudah menjadi kebutuhan. Oleh karena itu, visi
modern melihat kerja sebagai: (1) aktivitas dasar dan dijadikan bagian esensial
dari kehidupan manusia. Seperti bermain bagi anak-anak, maka kerja selaku
aktivitas sosial bisa memberikan kesenangan dan arti tersendiri bagi kehidupan
orang dewasa, (2) kerja memberikan status dan mengikat seseorang kepada
individu lain dan masyarakat, (3) pada umumnya, wanita maupun pria menyukai
pekerjaan, jadi mereka suka bekerja, (4) moral pekerja dan pegawai tidak
mempunyai kaitan langsung dengan kondisi fisik atau material dari pekerjaan,
(5) insentif kerja banyak sekali bentuk-bentuknya, di antaranya ialah uang,
dalam kondisi normal merupakan insentif yang paling tidak penting.
Dalam melakukan pekerjaan, biasanya seseorang tidak selamanya hanya
dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik seperti pemenuhan keuangan semata, tetapi
motivasi instrinsik merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Motivasi
instrinsik tersebut antara lain kebanggaan akan dirinya dapat melakukan sesuatu
pekerjaan yang orang lain belum tentu mampu melakukannya, kecintaan terhadap
pekerjaan itu atau minat yang besar terhadap tugas atau pekerjaan yang
dilakukannya selama ini. Oleh sebab itu, motivasi kerja tidak hanya berwujud
kepentingan ekonomis saja, tetapi bisa juga berbentuk kebutuhan psikis untuk
lebih melakukan pekerjaan secara aktif.
Menurut pendapat Seyfarth (2002: 84-85) motivasi kerja dinyatakan
sebagai berikut: Work motivation consists
of a set of forces “that originate both within as well as beyond an
individual’s being, to initiate work-related behavior, and to determine its
form, direction, intensity, and duration” (Pinder, 1984, 0.8) and as having to
dowith “the conditions responsible for variations in the intensity, quality,
and direction of on going behavior” (Landy, 1985, 0.317). By combining elements
of these descriptions, we arrive at a definition that is suitable for our
purpose. (Motivasi kerja terdiri dari seperangkat kekuatan yang terdapat di
dalam di luar individu untuk melakukan suatu pekerjaan dan untuk menentukan
format, arah, intensitas, dan jangka waktu (Pinder, 1984, 0.8) dan ketika
melakukan dengan kondisi-kondisi yang bertanggung jawab untuk variasi dalam
intensitas, mutu, dan arah tentang perilaku berkelanjutan (Landy, 1985, 0.317).
Kreitner dan Kinicki (2005: 79) menyatakan bahwa motivasi kerja adalah proses
psikologis yang ditampilkan melalui perilaku. Sedangkan menurut Wood et. al. (2001: 116) menyatakan bahwa
motivasi kerja menggambarkan kekuatan individu yang menjelaskan bagaimana
tingkat, arah, serta upaya yang dilakukannya. Dari pendapat tersebut, Priansa
(2014: 202) menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah
perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi pegawai untuk berperilaku terhadap
pekerjaaanya. Motivasi kerja merupakan proses yang menunjukkan intensitas
individu, arah, dan ketekunan sebagai upaya mencapai tujuan organisasi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja guru
adalah keseluruhan proses pemberian motif atau dorongan kerja pada para
bawahan terutama para guru sebagai agen pendidikan dan pengajaran, agar tujuan
pendidikan dan pengajaran dapat tercapai sesuai dengan rencana apa yang
diharapkan.
2. Hakikat
Motivasi Kerja Guru
Purwanto (1998: 171) mengatakan bahwa fungsi motivasi bagi manusia
adalah: (1) sebagai motor penggerak bagi manusia, ibarat bahan bakar pada
kendaraan, (2) menentukan arah perbuatan, yakni ke arah perwujudan suatu tujuan
atau cita-cita, (3) mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk
mencapai tujuan, dalam hal ini makin jelas tujuan, maka makin jelas pula
bentangan jalan yang harus ditempuh, (4) menyeleksi perbuatan diri, artinya
menentukan perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi guna mencapai
tujuan dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan itu.
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa pemberian motivasi tidak dapat
dipisahkan dengan konsep kebutuhan manusia. Salah satu teori jenjang sangat
populer berkaitan dengan kebutuhan dari Maslow. Maslow (dalam Uno, 2013: 68) mengatakan
terdapat lima jenjang kebutuhan, yaitu (1) the physiological needs (kebutuhan
fisiologis), (2) security needs
(kebutuhan rasa aman), (3) social needs
(kebutuhan rasa memiliki dan rasa cinta), (4) self-respect needs (kebutuhan harga diri), dan (5) self-fulfillment needs (kebutuhan
perwujudan diri).
Sejalan dengan jenjang kebutuhan
tersebut, Kenneth (1977: 74) mengemukakan berbagai kebutuhan yang memengaruhi
perilaku individu dalam organisai sebagai berikut: (1) kebutuhan hidup, (2)
kebutuhan keamanan, (3) kebutuhan berafiliasi, (4) kebutuhan akan adanya
penghargaan, (5) kebutuhan untuk tidak bergantung pada orang lain, dan (6)
kebutuhan akan prestasi dan kompetensi.
Berbagai ciri yang dapat diamati bagi seseorang yang memiliki motivasi
kerja, menurut Kenneth (1977: 77) antara lain sebagai berikut: (1) kinerjanya
tergantung pada usaha dan kemampuan yang dimilikinya dibandingkan dengan
kinerja melalui kelompok, (2) memiliki kemampuan dalam menyelesaikan
tugas-tugas yang sulit, dan (3) sering kali terdapat umpan balik yang konkret
tentang bagaimana seharusnya ia melaksnakan tugas secara optimal, efektif dan
efesien.
Menurut Priansa (2014: 218-219) terdapat tiga macam karakteristik dasar
dari motivasi kerja yang berkenaan dengan pegawai, yaitu:
a.
Usaha (Effort). Merupakan
kekuatan dari pelaku kerja seseorang atau seberapa besar upaya yang dikeluarkan
seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaannya.
b.
Ketekunan (Persistence).
Ketekunan yang dijalankan individu dalam menggunakan usahanya pada tugas-tugas
yang diberikan.
c. Arah (Direction). Karakteristik ini mengarah
pada kualitas kerja seseorang dalam perilaku bekerjanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar